Sejarah singkat GPdI

Arti lambang GPdI

SALIB:

Kuasa Kebangkitan, pengawal, pengawas dan perlindungan Gereja Tuhan.

BURUNG MERPATI:

Kuasa Roh Allah yang kudus sebagai kekuatan yang memimpin jemaat Gereja Tuhan menuju kesempurnaan.

ALKITAB TERBUKA:

Rahasia kebenaran Firman Tuhan yang akan diungkapkan dan diberitakan oleh segenap jajaran GPdI agar banyak jiwa-jiwa diselamatkan.

CINCIN BERTULISKAN GPdI:

Persekutuan dan ikatan kasih keluarga besar GPdI, mulai dari sidang jemaat, pelayan-pelayan, hamba-hamba Tuhan, gembala-gembala jemaat, penginjil-penginjil di mana pun mereka berada dalam menunaikan misinya masing-masing bagi hormat dan kemuliaan Tuhan.

AIR BENING YANG TURUN:

Turun Firman Tuhan sebagai “Air Kehidupan” yang menyegarkan dan memberi hidup bagi yang meminumnya.

BINGKAI EMPAT PERSEGI TEGAK:

Sebagai empat penjuru arah angin, yang berarti pula bahwa misi GPdI harus menyebar ke segala arah dan tempat dengan sikap yang tegak dan tegar.

Strong words

GPdI dikenal karena doktrin Firman Tuhan yang kuat, atau seringkali dikenal dengan istilah “Injil Sepenuh”. GPdI selalu berusaha untuk mengabarkan kebenaran Alkitab seutuhnya/sepenuhnya tanpa dikurangi dan ditambah.

Contoh yang paling menonjol adalah semua pendeta GPdI tidak menerima gaji, tetapi mereka hidup dari Firman Tuhan. Menjadi pendeta adalah panggilan Tuhan, bukan profesi. Ini adalah ciri khas GPdI yang terus dipegang teguh sampai sekarang, sesuai dengan ayat Firman Tuhan di 1 Kor 9:13-14.

Strong spirit

GPdI adalah gereja yang mengandalkan Roh Kudus. Para pendiri GPdI dengan tegas menaruh huruf P sebagai singkatan dari Pantekosta, yang berhubungan dengan kuasa Roh Kudus.

Banyak mujizat Tuhan terjadi menyertai perjuangan hamba Tuhan GPdI. Semua ini pastinya adalah karya Roh Kudus.

“[…] Kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu […]” (Kis 1:8a, TB)

Doa dan baptisan Roh Kudus–dengan Tuhan Yesus sebagai Pembaptis–adalah salah satu ciri GPdI.

Strong mission

Dengan berbekal Doktrin Injil Sepenuh, dan dengan mengandalkan doa serta pertolongan Roh Kudus, para hamba Tuhan GPdI menjalankan Amanat Agung dari Tuhan Yesus untuk mengabarkan Injil ke semua daerah di seluruh pelosok tanah air Indonesia, bahkan sampai ke luar negeri. Para hamba Tuhan GPdI berjuang mengabarkan Injil di kota besar, kota kecil, desa, gunung-gunung, pulau-pulau, bahkan di hutan, semua tanpa gaji.

GPdI kini memiliki kurang lebih 14.000 gereja/jemaat lokal yg tersebar di seluruh penjuru Indonesia dan mancanegara. Walaupun masih banyak bangunan gereja GPdI yang sangat sederhana dan banyak kekurangan, tetapi perjuangan hamba Tuhan GPdI sejak Maret 1921 utk membuka “ladang Tuhan” patut kita hargai.

Semua dari mujizat

Pada tahun 1919, gereja aliran Pantekosta “The Bethel Temple” mengadakan kebaktian penginjilan di Green Lake, Seattle, negara bagian Washington (Amerika Serikat). Kebaktian diadakan di sebuah tenda raksasa yang berkapasitas ribuan tempat duduk. Di sekeliling tenda raksasa, terdapat ratusan tenda untuk tempat tinggal sementara bagi pengunjung kebaktian dan juga tenda khusus untuk berdoa.

Banyak orang menerima Yesus sebagai Juruselamat, dibaptis air dan juga menerima baptisan Roh Kudus. Mujizat kesembuhan Allah dialami juga oleh banyak orang. Di antara mereka yang dipenuhkan dengan Roh Kudus, terdapat empat orang yang mendapat panggilan Tuhan untuk bekerja di ladang-Nya. Dalam penglihatan yang jelas, mereka disuruh pergi ke Pulau Jawa. Keempat orang itu adalah pasangan suami istri C. Groesbeek dan suami istri van Klaverens.

Pasangan suami istri itu menemui Pdt. W.H. Offiler, gembala jemaat Bethel Temple, serta menceritakan penglihatan dan panggilan Tuhan yang ajaib. Persiapan untuk memulai perjalanan jauh pun dimulai. Gerakan pengumpulan dana terhenti ketika mencapai 1.700 USD, sedangkan dana yang diperlukan waktu itu adalah 2.200 USD. Masih diperlukan 500 USD lagi.

Pada suatu hari, seorang perempuan sambil menangis mendatangi Pdt. Offiler dan istrinya. Ia memohon untuk didoakan karena tumor sebesar bola sepak yang dideritanya selama 5 tahun telah berubah menjadi kanker, dan harus segera dioperasi.

Beberapa hari kemudian, mujizat Tuhan terjadi. Seluruh gumpalan daging kanker jatuh ke lantai! Ia pergi ke dokter yang merawatnya selama ini untuk memastikan kesembuhannya. Ia berjanji bahwa jika ia sembuh, ia akan menyerahkan uang yang seharusnya untuk biaya operasi.

Perempuan itu dinyatakan sembuh total. Ia lalu mengambil uang sejumlah biaya operasinya dari bank untuk diserahkan kepada Pdt. Offiler. Jumlah uang yang diberikan oleh perempuan ini adalah tepat 500 USD. Inilah mujizat Tuhan, dan harga pengabaran Injil Sepenuh yang masuk ke Indonesia.

Pada tanggal 4 Januari 1921, berangkatlah empat orang mantan perwira Bala Keselamatan, yang adalah warga negara Amerika keturunan Belanda, yaitu: Richard Dick, Christine van Klaverens, dan suami-istri Cornelius Groesbeek beserta kedua putri mereka Jennie G. (12, 5 tahun) dan Corie G. (6 tahun). Mereka berangkat dari Seattle dengan kapal laut Suamaru. Kapal mereka itu pertama berlayar ke Yokohama, Osaka, singgah di Cina, lalu akhirnya ke Pulau Jawa.

Mereka akhirnya mendarat di Batavia (Jakarta) pada tanggal 23 Februari 1921. Dari Batavia, mereka menuju Mojokerto, Surabaya, dan Banyuwangi dengan menggunakan kereta api. Mereka lalu menumpang kapal Varkenboot dan tiba di Singaraja, Bali pada bulan Maret 1921, kemudian menetap di Denpasar. Tempat tinggal mereka adalah sebuah gedung kopra dengan lantai batu bata yang sudah hancur, dinding dari kayu bekas peti susu yang sudah lapuk termakan semut dan rayap, sedangkan atapnya terbuat dari rumbia. Dengan penuh kesulitan mereka lalu menabur benih Injil Sepenuh dari rumah ke rumah.

Banyak orang yang mempunyai luka bernanah datang ke rumah mereka. Mereka lalu menyobek seprei-seprei lama menjadi semacam perban untuk membalut luka-luka tersebut. Di kemudian hari, baru diketahui bahwa orang-orang itu menderita penyakit kusta. Mereka semua pun didoakan.

Karena begitu banyak orang yang datang ke rumah itu untuk memohon didoakan dan menerima kesembuhan, maka penduduk setempat bermaksud jahat terhadap mereka. Tetapi, para penduduk itu tidak dapat melaksanakan rencana mereka karena melihat malaikat-malaikat yang berdiri di pintu masuk rumah. Tuhan telah membela hamba-Nya.

Apa yang mereka kerjakan di sana juga telah mengundang reaksi keras imam-imam Hindu. Hal ini mendorong Pemerintah Belanda melarang hamba Tuhan ini menetap dan menginjil di Bali dengan alasan takut merusak kebudayaan asli penduduk Bali. Oleh sebab itulah maka keluarga Van Klaverens harus meninggalkan Bali dalam waktu 3 hari. Karenanya, setelah sekitar 21 bulan berada di Bali, menjelang Natal tahun 1922, kedua keluarga ini berangkat ke Surabaya. Keluarga Rev. Richard van Klaverens kemudian menuju ke Batavia.

Di Surabaya, Rev. Cornelius E. Groesbeek berkenalan dengan Ny. Wijnen yang mempunyai seorang keponakan yang bekerja di BPM Cepu (Shell), yaitu Sdr. F.G. Van Gessel. Dengan perantaraan Ny. Wijnen yang telah menerima kesembuhan ilahi lewat pelayanan Rev. Cornelius E. Groesbeek, maka Sdr. Van Gessel dapat berjumpa dan berkenalan dengan beliau.

Sdr. Van Gessel menyambut hangat Rev. Groesbeek karena memang telah lama dia ingin lebih mengerti dan mendalami Injil yang selama ini dibacanya. Berita Pantekosta disambutnya dengan penuh sukacita, lalu pada bulan Januari 1923 dimulailah kebaktian Pantekosta yang pertama di Deterdink Boulevard, Cepu.

F.G. Van Gessel dengan istri, pegawai tinggi BPM bergaji 800 Gulden, bertobat dan menerima Injil Sepenuh. Kebaktian itu berlangsung terus dengan baik dan jumlah pengunjung bertambah hingga mencapai 50 orang.

Baptisan pertama – jiwa pertama

Kebaktian di Cepu ini mengalami tantangan keras: mereka diejek, diolok, dan dituduh sebagai aliran yang menyesatkan. Mujizat yang terjadi di dalam kebaktian mereka dituduh sebagai pekerjaan Setan. Meski demikian, Tuhan bekerja luar biasa sampai tiga bulan kemudian, tanggal 30 Maret 1923, menjadi tonggak sejarah GPdI, yaitu diadakannya baptisan air pertama.

Benih Injil Sepenuh yang ditabur dengan air mata sejak Maret 1921 di Bali mulai mengeluarkan buah dengan diadakannya baptisan air di Pasar Sore Cepu untuk 13 orang. Di antara mereka termasuk suami istri F.G. Van Gessel, suami istri S.I.P Lumoindong dan Sdr. Agust Kops. Baptisan ini dilakukan oleh Rev. J. Thiessen, seorang misionaris dari Belanda.

Kini benih itu sudah berkembang menjadi ±14.000 gereja GPdI yang tersebar di seluruh Indonesia dan luar negeri, beserta sekolah-sekolah Alkitab yang tersebar di 33 provinsi. Setiap tahun, lulus ribuan hamba Tuhan yang siap terjun ke ladang-Nya.

Semua berawal dari kesederhanaan, kuasa Firman Tuhan, dan pekerjaan Roh Kudus. Jika Api Pantekosta sudah menyala selama 90 tahun di Indonesia, maka sebagai anak muda kita wajib menjaga dan membuat api itu terus berkobar.

Leave a comment

Filed under Artikel, General Knowledge

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s